“Yaudah sih..” sebagai konsep HAM

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pada kesempatan ini saya akan mengangkat topik yang mungkin sedikit sensitif, yaitu mengenai konsep Hak Asasi Manusia dari perspektif saya pribadi. Kenapa sensitif, karena ini adalah opini pribadi dan mungkin kita berbeda pandangan. Tidak ada maksud menghujat yang satu daripada yang lain, melainkan sekedar menuangkan opini semata. Dengan merujuk pada fenomena perlindungan hak asasi yang dikemas secara mulia oleh sebagian besar kalangan berpemikiran, maka saya akan mencoba untuk beropini dengan keterbatasan dalil yang coba saya gali dari konsep-konsep Islam dan penalaran logika versi saya.

Mengenai perlindungan hak manusia, tentunya pula Islam mengenalnya, dan bahkan Allah berfirman perihal perlindungan hak seorang manusia dalam firmannya Qs. Al A’raaf ayat 33, yang menyebutkan: “… mengharamkan melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar…”. Maka dari sini tentunya kita semua memiliki persamaan prinsip dasar, yaitu hak seseorang diharamkan untuk dilanggar. Namun, dari prinsip dasar tersebut kemudian akan menimbulkan pertanyaan, apa saja yang menjadi hak-hak seorang manusia?

Sebagai seorang muslim (mohon maaf apabila diperkenankan menganalogikan) bahwa Al Qur’an ialah sebagai pedoman tertinggi umat muslim layaknya UUD 1945 di Indonesia. Maka kembali lagi kita harus merujuk pada isi kandungan Al Qur’an, sebagai pedoman tertinggi umat Islam mengenai apa saja yang menjadi hak-hak seorang manusia. Menurut pendapat saya, apa yang menjadi hak-hak seorang manusia ialah segala hal yang diperintahkan Allah untuk dilindungi atas setiap umat manusia (dalam konsep hablumminannas yang disebutkan di dalam Al Qur’an), dan juga apa saja yang diamanahkan Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat. Tentunya segala hal yang dilindungi dan diamanahkan Allah dan Rasulullah tersebut ialah hal-hal yang ma’ruf. Maka, itulah yang menjadi hak-hak manusia dalam konsep Islam.

Namun ada kalanya, di lingkungan yang majemuk, yang terdiri dari beragam konsep dan pemahaman, akan menjadikan PR besar terkait perlindungan hak manusia. Diawali dari perbedaan persepsi penafsiran apa yang menjadi hak seorang manusia dan mana yang bukan. Terlebih dengan masuknya faham pluralisme yang menggeser atau membuat longgar hak-hak seorang muslim dalam konsep Islam yang lurus. Belum lagi sikap negara/ulil amri yang mencoba memfasilitasi prinsip HAM di dalan kemajemukan rakyatnya. Bagi negara hak asasi seorang manusia yang paling asasi ialah dalam hal beragama/berkeyakinan. Ok, kita bungkus konsep HAM versi negara tersebut. Namun, tatkala seorang warga negaranya telah memutuskan memilih agama Islam sebagai agama yang diyakini, maka apa yang menjadikan hak asasi baginya ialah jelas apa yang ditentukan oleh agamanya. Bukan apa yang dia buat-buat sendiri untuk memperluas batasan apa yang menjadi haknya.

Saya mencoba menggambarkan konsep HAM yang begitu longgar dan lembut yang terjadi di lingkungan masyarakat kita saat ini, yaitu dengan prinsip “yaudah sih..“. Dalam prinsip HAM mengenai kebebasan berpendapat, misal ada pertanyaan kapan Indonesia merdeka? Kemudian ada yang menjawab tanggal 27 Desember 1949, lalu merayakannya. Maka, dengan menggunakan prinsip HAM akan “yaudah sih biarin aja klo emang menurut dia gitu“. Sesunguhnya hak asasi manusia perihal kebebasan berpendapat memang sangat penting untuk dilindungi dan tidak jadi persoalan. Saya sependapat dengan itu. Maksud saya menggambarkan permisalan demikian hanyalah ingin menggaris bawahi bahwa sesuatu yang benar atau salahnya sudah jelas, masih memungkinkan adanya perbedaan pendapat. Saya tidak hendak menyoroti kebebasan berpendapat yang sifatnya umum seperti tersebut di atas. Melainkan yang ingin saya soroti ialah yang berkaitan dengan aqidah agama, karena batasannya jelas tidak terbantahkan dan tidak dapat dikecualikan sebagai konsekuensi keimanan yang utuh. Sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al Baqarah ayat 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya…”. Sehingga tidak memilih-milih mana yang hendak dilaksanakan atas seruan-Nya yang sesuai dengan selera hati masing-masing.

Dalam konsep ini saya akan mengambil contoh adanya faham-faham kebebasan ber-hak asasi, misalnya dalam soal perbuatan keji (dalam Al Qur’an perbuatan keji didefinisikan salah satunya menyukai sesama jenis. Hal tersebut dilarang, lihat tulisan saya sebelumnya mengenai Perintah-perintah dan Larangan-larangan-Nya). Belakangan ini, berbagai komunitas muncul dengan misinya melindungi hak asasi manusia, salah satunya melindungi hak untuk menyukai siapa saja meskipun sesama jenis. Atau dengan kata lain, bila dirinya seorang muslim dapat diartikan komunitas yang melindungi seseorang melakukan perbuatan keji. Atau apabila kita mau mengkerucutkan kembali, maka dapat diartikan melakukan perbuatan keji adalah suatu hak asasi manusia. Apa hal tersebut dibenarkan dan layak dijadikan sebuah hak? Ini hanyalah salah satu contoh saja, masih ada beberapa pemikiran-pemikiran/konsep HAM lainnya yang menabrak aqidah Islam.

Sebagai umat muslim, segala yang dilarang dan yang diperintahkan Allah itu difirmankan-Nya dengan ayat-ayat yang jelas, yang kalimatnya tidak bercabang, yang tidak membutuhkan usaha keras untuk menafsirkan atau mencari-cari takwilnya agar dapat memahami. Maka untuk sesuatu yang sudah jelas dilarang, kenapa harus diupayakan untuk dibenarkan dan dijadikannya sebagai sebuah hak?!

Tulisan ini tentunya secara spesial saya tujukan bagi mereka yang muslim. Menjadi terlihat intelek tidak harus dengan cara berlaku menjunjung hak asasi yang sifatnya mendobrak kaidah Islam yang lurus. Menjadi terlihat itu tidak penting, jauh lebih penting tau batasan mana yang hak dan mana yang batil. Ada batasan-batasan yang jelas digariskan, mana yang dilarang dan mana yang tidak. Mana yang patut dibela dan mana yang patut diluruskan. Memang semua kemasan hak asasi begitu cantik, di dalamnya ada yang benar-benar berisi hal-hal ma’ruf, namun kita harus jeli melihat mana yang munkar. Masih mending besikap “Yaudah sih, biarin aja, udah dewasa, dosa ditangung masing-masing, yang penting gak terjerumus, namun jauh lebih baik lagi kalo kita menyerukan dan mengingatkan supaya muslimin yang lain waspada kepada aqidah yang bengkok dengan bungkusan menarik. Sebagaimana salah satu firman Allah dalam Qs. An Nahl ayat 125 yang berbunyi: “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Demikian tulisan ini, yang berisikan opini saya pribadi. Mohon maaf apabila ada kekeliruan dalam pemilihan kata, sehingga membuat pesannya terdengar tajam. Sekali lagi, tidak ada maksud menghujat yang satu dari pada yang lainnya. Adapun yang sifatnya menyalahkan yang satu dan membenarkan yang lain ialah semata-mata menyerukan yang hak dari pada yang batil. Mana yang hak dan mana yang batil bukan saya yang mengada-adakan. Tidak lain hanyalah mengutip pesan dari firman Allah yang terkandung di dalam Al Qur’an.

Wassalam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s