Amanah Wali Songo (Penyelamatan Aqidah)

Assalamualaikum, Wr. Wb.

Topik bahasan kali ini ialah mengenai penyelamatan aqidah dan kemurnian ibadah sesuai dengan syariat yang terkadung di dalam Al Qur’an. Tema ini saya akan bahas dengan maksud mencoba meluruskan aqidah, sebagaimana amanah/pesan yang pernah disampaikan oleh para wali dalam rangka penyebaran Islam khususnya di tanah Jawa. Oleh sebab itu, hal ini erat kaitannya dengan sejarah sekaligus budaya di tanah Jawa pada khususnya.

Bermula dari sebuah artikel yang saya baca mengenai sejarah Wali Songo. Pada chapter Sunan Ampel, terdapat sub “Penyelamat Aqidah”. Berikut agar terpapar utuh, saya kutip isinya sebagai berikut:

Penyelamat Aqidah

Sikap Sunan Ampel terhadap adat istiadat lama sangat hati-hati, hal ini didukung oleh Sunan Giri dan Sunan Drajad. Seperti yang pernah tersebut dalam permusyawaratan para wali di mesjid Agung Demak. Pada waktu itu Sunan Kalijaga Mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman. Mendengar pendapat Sunan Kalijaga tersebut bertanyalah Sunan Ampel. “Apakah tidak mengkhawatirkan dikemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam, jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?”

Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampel, “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada ajaran Tauhid kita akan memberinya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekhawatiran kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa dibelakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.

Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ada benarnya yaitu agar agama Islam cepat diterima oleh orang jawa, dan hal ini terbukti, dikarekan dua wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolerir Islam maka penduduk jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam.

Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat umat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah. Inilah jasa Sunan Ampel yang sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelamatkan aqidah umat agar tidak tergelincir kelembah kemusyrikan.

Yang menjadi catatan penting dalam kutipan artikel di atas ialah pada pesan yang disampaikan oleh Sunan Kudus dalam menjawab pertanyaan Sunan Ampel terkait usul yang disampaikan Sunan Kalijaga, yaitu “…saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.”

Maka dari sini dapat kita simpulkan, bahwa pada prinsipnya dahulu dilakukan penetrasi unsur keislaman dalam budaya/adat Jawa ialah tidak lain hanya sebagai daya tarik agar masyarakat mau mengenal Islam terlebih dahulu, dan diharapkan mereka dapat mengimani ajaran-ajaran Islam secara murni dan utuh di kemudian hari. Dengan demikian ajaran murni Islam sesungguhnya tidaklah mengenal adat istiadat, khususnya upacara-upacara adat yang kerap mengirimkan sesaji-sesaji untuk leluhur, mengkeramatkan pusaka, melakukan ritual adat dengan berbagai sesembahan, yang sesungguhnya lebih dekat kearah musyrik lagi menyekutukan Allah (Maha Suci Allah). Ritual-ritual semacam itu sebaiknya tidak lagi dilakukan sekarang. Mengingat penyebaran Islam sudah berkembang begitu massive di negeri kita ini. Maka sudah waktunya untuk meluruskan ajaran-ajaran yang mendekati bengkoknya aqidah, sebagaimana amanah yang hendak diharapkan oleh Wali Songo dahulu.

Kaum muslim di zaman yang sudah modern ini hendaknya dengan tingkat intelektual yang semakin maju, dan gaya berfikir yang logis mau mengkaji dan mengembalikan kebiasaan/ritual nenek moyang kepada sumber ajaran agama yang diimaninya secara sungguh-sungguh, yakni dengan mencari tau asbabun nuzul kebenarannya dengan merujuk kepada Al Qur’an dan Al Hadits. Karena, selaku muslim yang beriman dan mau berfikir, maka hanya kepada Al Qur’an dan Al Hadits lah kita berpedoman dan kembali.

Ajaran yang murni mengenai ketauhidan ialah terletak pada Rukun Iman, yaitu beriman kepada Allah SWT, kepada Malaikat-malaikat, kepada Kitab-kitab, kepada Rasul-rasul dan Nabi-nabi, kepada Hari Kiamat, dan kepada Qada’ dan Qadar. Dan beribadah/berbuat kebajikan di jalan Allah ialah dengan mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa dalam hari-hari yang ditentukan, menunaikan ibadah haji jika mampu, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Bukan melakukan ritual-ritual sesembahan kepada leluhur atau melakukan upacara-upacara keagamaan selain yang diatur dalam Al Qur’an. Karena sesungguhnya janganlah mengada-adakan sesuatu yang tidak diperintahkan, terlebih ke dalam tindakan yang mendekati kemusyrikan.

Demikian ajaran Islam yang secara murni dapat saya tarik dan simpulkan, terkait dengan adanya irisan aqidah antara adat budaya dengan ajaran murni yang terkandung di dalam Al Qur’an. Dengan tujuan tidak lain hanya meneruskan amanah dari para Wali, yang mengharapkan di kemudian hari ada yang menyempurnakan dan meluruskan maksud daripada pendekatan-pendekaan adat dalam penyebaran Islam di zaman awal masuknya peradaban Islam di Indonesia. Tidak maksud menggurui, melainkan pemahaman dan pendekatan yang saya lakukan tidak lain hanyalah pendekatan logika dan iman serta ketauhidan saja. Tidak pula bermaksud memvonis atau mengintimidasi kultur, melainkan hanya menganalisa suatu aqidah dengan berpedoman pada Al Qur’an.

Laa Ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaakulli syai’in qadiir

(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi kerajaan-Nya, bagi-Nya segala pujian dan Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu).

Wassalam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s