Alam Barzakh

Assalamualaikum wr. wb.

Terlampir saya kutip sarah dalam Kitab Al Qirthaas jilid 2, oleh Al’allaamah Alhabib Ali bin Hasan Abdullah bin Husen bin Umar Al-Attas Baa’alawi Alhadrami.

Terjemahan oleh:
Alfaqiir IlaaAllah
H. Thoha bin Abubakar bin Yahya.

image

image

image

image

image

Demikian, sebagai bahan pembelajaran, untuk dapat direnungkan dan diambil hikmahnya.

Wassalamualaikum..

Advertisements

Penyempurnaan Agama

Assalamualaikum wr. wb.

Jakarta, 6 Juli 2014 | 8 Ramadhan 1435H.

Pada kesempatan ini saya akan menguraikan kandungan Al Quran, Surat Al Maidah ayat 44-48 (Qs.5:44-48), yang pada intinya membahas mengenai hukum-hukum Allah dalam kitab-kitab terdahulu dan yang terakhir (Al Quran).

Qs.5:44

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya ada petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka, dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara (kandungan) kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. …

Qs.5:45

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka pun ada qisasnya. Barang siapa yg melepaskan hak qisasnya, maka melepaskan haknya itu menjadi penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yg diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yg zalim.

Qs.5:46

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yg sebelumnya: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yg menerangi), dan membenarkan kitab yg sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yg bertakwa.

Qs.5:47

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yg diturunkan Allah di dalamnya (sampai masa diturunkannya Al Quran). …

Qs.5:48

Dan Kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yg sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan batu ujian (Al Quran sebagai ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat pada kitab-kitab sebelumnya/penyempurna kitab sebelumnya)… Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. …

Dari uraian ayat-ayat tersebut di atas dapat disimpulkan:

1. Allah menurunkan kitab-kitab sebagai petunjuk untuk menerangi umatnya sejak dahulu, untuk memutuskan perkara-perkara diantara mereka.

2. Al Quran membenarkan kitab-kitab yg terdahulu dan sebagai penyempurna atasnya. Dan oleh karenanya putuskanlah perkara menurut apa yg Allah turunkan.

3. Allah hendak menguji kita, dengan beragam umat, niscaya jika Allah menghendaki dapat menjadikannya satu umat saja, namun Allah menghendaki demikian agar kita berlomba-lomba untuk berbuat kebajikan.

Wassalamualaikun wr. wb.

Asbabul nuzul brodkes “Mohon maaf lahir dan batin”

image

Assalamualaikum wr. wb.

Jikalau ada pertanyaan, “Kenapa sih orang beramai-ramai minta maaf (cuma) di bulan Ramadhan?”

Begini asbabul nuzulnya:

Hidup, gak luput dari dosa.

Dosa (dilihat dari muasalnya ada dua jenis), terhadap Tuhannya maupun terhadap manusia.

Bulan Ramadhan, formula yang diberikan oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang utk menyucikan diri dari DOSA TERHADAP TUHANNYA. Sedangkan ampunan atas DOSA TERHADAP MANUSIA masih nyangkut dari manusia yg dizalimi.

Maka dari itu, “Mohon maaf lahir batin” merupakan ucapan dalam rangka MENYEMPURNAKAN proses penyucian diri dari dosa, yaitu dosa yg berasal antara sesama manusia.

Kesimpulan:
Itulah kenapa brodkes “Mohon Maaf Lahir dan Batin” menjadi penting dan marak di bulan Ramadhan (aja). 😆

Wassalam..

“Yaudah sih..” sebagai konsep HAM

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pada kesempatan ini saya akan mengangkat topik yang mungkin sedikit sensitif, yaitu mengenai konsep Hak Asasi Manusia dari perspektif saya pribadi. Kenapa sensitif, karena ini adalah opini pribadi dan mungkin kita berbeda pandangan. Tidak ada maksud menghujat yang satu daripada yang lain, melainkan sekedar menuangkan opini semata. Dengan merujuk pada fenomena perlindungan hak asasi yang dikemas secara mulia oleh sebagian besar kalangan berpemikiran, maka saya akan mencoba untuk beropini dengan keterbatasan dalil yang coba saya gali dari konsep-konsep Islam dan penalaran logika versi saya.

Mengenai perlindungan hak manusia, tentunya pula Islam mengenalnya, dan bahkan Allah berfirman perihal perlindungan hak seorang manusia dalam firmannya Qs. Al A’raaf ayat 33, yang menyebutkan: “… mengharamkan melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar…”. Maka dari sini tentunya kita semua memiliki persamaan prinsip dasar, yaitu hak seseorang diharamkan untuk dilanggar. Namun, dari prinsip dasar tersebut kemudian akan menimbulkan pertanyaan, apa saja yang menjadi hak-hak seorang manusia?

Sebagai seorang muslim (mohon maaf apabila diperkenankan menganalogikan) bahwa Al Qur’an ialah sebagai pedoman tertinggi umat muslim layaknya UUD 1945 di Indonesia. Maka kembali lagi kita harus merujuk pada isi kandungan Al Qur’an, sebagai pedoman tertinggi umat Islam mengenai apa saja yang menjadi hak-hak seorang manusia. Menurut pendapat saya, apa yang menjadi hak-hak seorang manusia ialah segala hal yang diperintahkan Allah untuk dilindungi atas setiap umat manusia (dalam konsep hablumminannas yang disebutkan di dalam Al Qur’an), dan juga apa saja yang diamanahkan Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat. Tentunya segala hal yang dilindungi dan diamanahkan Allah dan Rasulullah tersebut ialah hal-hal yang ma’ruf. Maka, itulah yang menjadi hak-hak manusia dalam konsep Islam.

Namun ada kalanya, di lingkungan yang majemuk, yang terdiri dari beragam konsep dan pemahaman, akan menjadikan PR besar terkait perlindungan hak manusia. Diawali dari perbedaan persepsi penafsiran apa yang menjadi hak seorang manusia dan mana yang bukan. Terlebih dengan masuknya faham pluralisme yang menggeser atau membuat longgar hak-hak seorang muslim dalam konsep Islam yang lurus. Belum lagi sikap negara/ulil amri yang mencoba memfasilitasi prinsip HAM di dalan kemajemukan rakyatnya. Bagi negara hak asasi seorang manusia yang paling asasi ialah dalam hal beragama/berkeyakinan. Ok, kita bungkus konsep HAM versi negara tersebut. Namun, tatkala seorang warga negaranya telah memutuskan memilih agama Islam sebagai agama yang diyakini, maka apa yang menjadikan hak asasi baginya ialah jelas apa yang ditentukan oleh agamanya. Bukan apa yang dia buat-buat sendiri untuk memperluas batasan apa yang menjadi haknya.

Saya mencoba menggambarkan konsep HAM yang begitu longgar dan lembut yang terjadi di lingkungan masyarakat kita saat ini, yaitu dengan prinsip “yaudah sih..“. Dalam prinsip HAM mengenai kebebasan berpendapat, misal ada pertanyaan kapan Indonesia merdeka? Kemudian ada yang menjawab tanggal 27 Desember 1949, lalu merayakannya. Maka, dengan menggunakan prinsip HAM akan “yaudah sih biarin aja klo emang menurut dia gitu“. Sesunguhnya hak asasi manusia perihal kebebasan berpendapat memang sangat penting untuk dilindungi dan tidak jadi persoalan. Saya sependapat dengan itu. Maksud saya menggambarkan permisalan demikian hanyalah ingin menggaris bawahi bahwa sesuatu yang benar atau salahnya sudah jelas, masih memungkinkan adanya perbedaan pendapat. Saya tidak hendak menyoroti kebebasan berpendapat yang sifatnya umum seperti tersebut di atas. Melainkan yang ingin saya soroti ialah yang berkaitan dengan aqidah agama, karena batasannya jelas tidak terbantahkan dan tidak dapat dikecualikan sebagai konsekuensi keimanan yang utuh. Sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al Baqarah ayat 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya…”. Sehingga tidak memilih-milih mana yang hendak dilaksanakan atas seruan-Nya yang sesuai dengan selera hati masing-masing.

Dalam konsep ini saya akan mengambil contoh adanya faham-faham kebebasan ber-hak asasi, misalnya dalam soal perbuatan keji (dalam Al Qur’an perbuatan keji didefinisikan salah satunya menyukai sesama jenis. Hal tersebut dilarang, lihat tulisan saya sebelumnya mengenai Perintah-perintah dan Larangan-larangan-Nya). Belakangan ini, berbagai komunitas muncul dengan misinya melindungi hak asasi manusia, salah satunya melindungi hak untuk menyukai siapa saja meskipun sesama jenis. Atau dengan kata lain, bila dirinya seorang muslim dapat diartikan komunitas yang melindungi seseorang melakukan perbuatan keji. Atau apabila kita mau mengkerucutkan kembali, maka dapat diartikan melakukan perbuatan keji adalah suatu hak asasi manusia. Apa hal tersebut dibenarkan dan layak dijadikan sebuah hak? Ini hanyalah salah satu contoh saja, masih ada beberapa pemikiran-pemikiran/konsep HAM lainnya yang menabrak aqidah Islam.

Sebagai umat muslim, segala yang dilarang dan yang diperintahkan Allah itu difirmankan-Nya dengan ayat-ayat yang jelas, yang kalimatnya tidak bercabang, yang tidak membutuhkan usaha keras untuk menafsirkan atau mencari-cari takwilnya agar dapat memahami. Maka untuk sesuatu yang sudah jelas dilarang, kenapa harus diupayakan untuk dibenarkan dan dijadikannya sebagai sebuah hak?!

Tulisan ini tentunya secara spesial saya tujukan bagi mereka yang muslim. Menjadi terlihat intelek tidak harus dengan cara berlaku menjunjung hak asasi yang sifatnya mendobrak kaidah Islam yang lurus. Menjadi terlihat itu tidak penting, jauh lebih penting tau batasan mana yang hak dan mana yang batil. Ada batasan-batasan yang jelas digariskan, mana yang dilarang dan mana yang tidak. Mana yang patut dibela dan mana yang patut diluruskan. Memang semua kemasan hak asasi begitu cantik, di dalamnya ada yang benar-benar berisi hal-hal ma’ruf, namun kita harus jeli melihat mana yang munkar. Masih mending besikap “Yaudah sih, biarin aja, udah dewasa, dosa ditangung masing-masing, yang penting gak terjerumus, namun jauh lebih baik lagi kalo kita menyerukan dan mengingatkan supaya muslimin yang lain waspada kepada aqidah yang bengkok dengan bungkusan menarik. Sebagaimana salah satu firman Allah dalam Qs. An Nahl ayat 125 yang berbunyi: “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Demikian tulisan ini, yang berisikan opini saya pribadi. Mohon maaf apabila ada kekeliruan dalam pemilihan kata, sehingga membuat pesannya terdengar tajam. Sekali lagi, tidak ada maksud menghujat yang satu dari pada yang lainnya. Adapun yang sifatnya menyalahkan yang satu dan membenarkan yang lain ialah semata-mata menyerukan yang hak dari pada yang batil. Mana yang hak dan mana yang batil bukan saya yang mengada-adakan. Tidak lain hanyalah mengutip pesan dari firman Allah yang terkandung di dalam Al Qur’an.

Wassalam..

Perintah-perintah Allah, dan Larangan-larangan-Nya

Assalamualaikum Wr. Wb..

Pada tulisan kali ini saya akan mencoba mengumpulkan semua perintah dan larangan Allah yang terkandung di dalam Al Qur’an (semoga tidak ada yang luput). Setelah beberapa hari mencoba mengumpulkan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya tersebut, alhamdulillah akhirnya rampung juga. Semoga manfaat.

Berikut ini adalah penjabarannya:

Yang diperintahkan Allah, yaitu sebagai berikut:

1. Beriman kepada yang ghaib (Qs.2:3, 177, 186, 277; Qs.4:150-152, 162) (maksudnya iman kepada yang ghaib ialah sebagai basic dari sebuah keimanan/keyakinan, karena apa yang kita yakini adalah sesuatu yang tak dapat ditangkap pancaindra. Karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya Allah, Malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya); berarti termasuk di dalamnya beriman kepada Allah (Qs.2:136, 177; Qs.4:136);

2. Mendirikan shalat (Qs.2:3, 110, 177, 238, 277; Qs.4:101-104, 162; Qs.6:72; Qs.8:3; Qs.9:71, 112; Qs.13:22; Qs.14:31; Qs.17:78; Qs.23:9; Qs.27:3; Qs.29:45; Qs.31:4, 17; Qs.35:29; Qs.42:38; Qs.108:2); menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa (Qs.2:21; Qs.4:36; Qs.7:59, 65, 73, 85; Qs.10:104; Qs.13:36; Qs.40:14; Qs.41:37; Qs.98:5) dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya (Qs.7:29; Qs.39:2); palingkan wajahmu ke arah Masjidil Haram (Qs.2:149, 150); shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat (Qs.17:78); bersegeralah shalat jum’at ketika mendengar seruannya (Qs.62:9); sembahyang tahajud sebagai ibadah tambahan (Qs.17:79; Qs.25:64; Qs.73:2-3; Qs.76:26); khusyuk dalam shalat (Qs.23:2);

3. Menafkahkan sebahagian rizki kepada orang-orang yang disyariatkan agama untuk diberikan (yang membutuhkan) (Qs.2:3, 177; Qs.13:22; Qs.14:31; Qs.17:26; Qs.30:38; Qs.35:29); tunaikanlah zakat (Qs.2:110, 177, 277, 162; Qs.9:71, 103; Qs.23:4; Qs.27:3; Qs.31:4; Qs.41:7; Qs.98:5); menafkahkan hartanya di jalan Allah, misalnya dalam ongkos berperang (zaman dahulu), berinfak, bersedekah (Qs.2:245, 261-274; Qs.3:134; Qs.8:3; Qs.33:35; Qs.57:18; Qs.63:10); yang berhak menerima zakat (Qs.9:60); janganlah memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak (Qs.74:6); berkurban (Qs.108:2);

4. Mengimani Al Qur’an DAN Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu (Qs.2:4, 121, 177; Qs. 3:3-4; Qs.4:47, 136; Qs.7:2); bacalah Al Qur’an (Qs.29:45; Qs.35:29; Qs.73:4);

5. Meyakini akan adanya (kehidupan) akhirat (Qs.2:4; Qs.27:3-5; Qs.31:4; Qs.41:7);

6. Ingat kepada Allah, bersyukur kepada-Nya, dan jangan mengingkari nikmat-Nya (Qs.2:152, 172; Qs.3:190-195; Qs.9;112; Qs.31:12; Qs.33:9); hanya mengingat kepada Allah hati menjadi tenteram (Qs.13:28; Qs.63:9);

7. Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat (Qs.2:153); perintah untuk bersabar dalam menghadapi cobaan (Qs.2:155, 177; Qs.3:125, 146, 186, 200; Qs.13:22; Qs.16:96, 127; Qs.20:130; Qs.29:58-59; Qs.31:17; Qs.33:35; Qs.41:34-35; Qs.52:48); Berdoa kepada Allah dengan berendah diri dan suara yang lembut, dengan rasa takut dan harapan, tidak melampaui batas (tentang yang diminta dan cara meminta, Allah Maha Tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya) (Qs.7:55, 56, 205; Qs.40:60);

8. Makanlah yang halal lagi baik dari yang terdapat di bumi (Qs.2:168; Qs.16:114); makan di antara rezeki yang baik-baik (Qs.2:172; Qs.5:88); sempurnakan takaran/timbangan dengan neraca yang benar, jgn curang (Qs.17:35; Qs.83:1-6);

9. Menepati janjinya apabila ia berjanji (salah satu pokok kebajikan- habluminannas) (Qs.2:177), memelihara amanat dan janjinya (Qs.23:8); Memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian (menjalankan perintah dan seruan-Nya; menunaikan ketika bernazar/bersumpah – habluminallah) (Qs.13:20; Qs.16:91; Qs.76:7);

10. Menjalankan hukum Allah (Qs.24:1), diwajibkan qishaash (mengambil pembalasan yang sama) berkenaan dengan orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Namun, bila mendapat suatu pemaafan hendaknya yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan yang diberi maaf membayar ganti rugi/diat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula (Qs.2:178; Qs.5:49-50; Qs.9:112; Qs.16:126; Qs.42:39-43); Jika kamu bersabar (tidak membalas siksaan yang ditimpakan kepadamu) itulah yang lebih baik bagi orang yang bersabar (Qs.16:126);

11. Bila kedatangan tanda-tanda maut, diwajibkan untuk berwasiat secara ma’ruf/ adil dan baik (Qs.2:180, 240); berwasiat dengan persaksian (Qs.5:106-108);

12. Diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu yaitu dalam beberapa hari tertentu, dan bagi yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajib baginya mengganti puasanya sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain, dan bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa maka wajib baginya membayar fidyah/memberi makan seorang miskin (Qs.2:183, 184, 185; Qs.33:35);

13. Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas (Qs.2:190);

14. Berhaji (Qs.2:196-203; Qs.22:27);

15. Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, jangan menyimpang dari jalan Allah (murtad, sesat/musyrik) (Qs.2:208-209);

16. Menjauhkan diri dari wanita/isteri di waktu haid (jangan menyetubuhi wanita di waktu haid, sebelum mereka suci) (Qs.2:222);

17. Memberikan mut’ah/pemberian hadiah (uang selain nafkah) sebagai penghibur menurut yang ma’ruf kepada wanita-wanita yang diceraikan (Qs.2:241);

18. Taatilah Allah dan Rasul agar kamu diberi rahmat (Qs.3:132; Qs.4:59, 69; Qs.5:92; Qs.7:3; Qs.8:20, 24; Qs.9:71; Qs.24:54; Qs.33:36; Qs.39:55,-59; Qs.64:12); Tidak menentang Rasul (Qs.4:115); Tidak mengkhianati Allah dan Rasul, dan amanah-amanah yang dipercayakan kepada kamu (Qs.8:27);

19. Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang (Qs.3:134; Qs.7:199);

20. Memelihara hubungan silaturahmi (Qs.4:1; Qs.13:21);

21. Memberikan kepada anak yatim yang sudah baligh harta mereka yang menjadi haknya, jangan menukar hartamu yang buruk dengan harta mereka yang baik dan jangan memakan harta mereka (anak yatim) bersama hartamu (Qs.4:2, 6; Qs.6:152; Qs.17:34); gunakan harta mereka anak yatim yang dalam kekuasaanmu untuk kebutuhan hidup dan keperluan mereka, dan ucapkan pada mereka perkataan yang baik (Qs.4:);

22. Memberikan mahar kepada wanita yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan (persetujuan dua pihak) (Qs.4:4, 24);

23. Melaksanakan pokok-pokok hukum waris dengan bagian-bagian yang sudah ditentukan (Qs.4:7-14);

24. Berbuat baik kepada kedua ibu-bapak dengan sebaik-baiknya (jangan membentak mereka, dan katakanlah perkataan yang mulia) (Qs.6:151; Qs.17:23; Qs.31:14; Qs.46:15), karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan yg bukan maksiat kemudian kehabisan bekal, termasuk anak yang tidak diketahui ibu bapaknya), dan hamba sahayamu (Qs.4:36); mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar (Qs.7:199; Qs.9:71, 112; Qs.31:17); berbuat kebajikan (Qs.16:90);

25. Menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya (Qs.8:27); dan bila menetapkan hukum/bersikap diantara manusia supaya menetapkan dengan adil (Qs.4:58, 105, 135; Qs.5:8; Qs.6:152; Qs.7:29, 85; Qs.16:90; Qs.49:9);

26. Mentaati ulilamri diantara kamu, jika berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikan ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) (Qs.4:59);

27. Bila hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuh kakimu sampai dengan kedua mata kaki (berwudhu), dan jika kamu junub (hadas besar) maka mandilah, dan jika sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari kakus atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka tayamumlah dengan tanah yang baik (bersih)-sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu-. (Qs.5:6);

28. Perintah untuk bertaubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, sesudah itu dan memperbaiki dirinya (Qs.4:16-18; Qs.5:34, 39; Qs.9:104, 112; Qs.11:3; Qs.16:119; Qs.25:70, 71; Qs.40:3; Qs.66:8); memohon ampun kepada Allah (Qs.41:6; Qs.57:21);

29. Memberi peringatan dengan kitab itu (Al Qur’an), dan menjadikannya pelajaran bagi orang-orang beriman (Qs.7:2); Serulah manusia kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik (Qs.16:125; Qs.46:31); berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (Qs.26:214); nasihat-menasihati mengerjakan amal saleh, mentaati kebenaran, dan menetapi kesabaran (Qs.103:3);

30. Menutupi aurat (Qs.7:26); bagi wanita agar jangan menampakan perhiasannya (keindahan tubuhnya) kecuali yang biasa nampak. Hendaknya menutupkan kain kudung ke dadanya, kecuali terhadap yang muhrimnya (Qs.24:31; Qs.33:59);

31. Bekerja (Qs.9:105; Qs.28:73); bekerja dalam arti luas (bertakwa, berbuat amal saleh) (Qs.39:39, 40);

32. Janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros (Qs.17:26, 28); Membelanjakan harta dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah yang ditengah-tengah yang demikian (Qs.25:67);

33. Katakan Insya Allah ketika berjanji akan mengerjakan sesuatu esok/nanti (Qs.18:23-24; Qs.68:18);

34. Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari (subuh) dan sebelum terbenamnya (menjelang maghrib), dan waktu malam juga siang supaya kamu merasa senang (Qs.20:130; Qs.24:36; Qs.33:42; Qs.52:48-49; Qs.68:28; Qs.76:26); banyak menyebut nama Allah (Qs.33:35); berzikirlah dengan menyebut nama Allah dengan sebanyak-banyaknya (Qs.33:41); bershalawat untuk Nabi “Allahumma shalli’ala Muhammad”, salam penghormatan kepada Nabi “Assalamu’alaika ayyuhan Nabi” (Qs.33:56);

35. Menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isterinya (Qs.23:5-6); menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya terhadap wanita yang bukan muhrimnya (Qs.24:30, 31); menjaga kesucian diri (Qs.24:33); memelihara kehormatannya (Qs.33:35);

36. Anjuran untuk menikah bagi yang telah dewasa dan belum menikah (Qs.24:32); membolehkan menikah dengan bekas isteri anak angkatnya (Qs.33:37);

37. Tidak memberikan persaksian palsu (Qs.25:72); katakanlah perkataan yang benar (Qs.33:70);

38. Bila bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan tidak berfaedah, lalui saja dengan tetap menjaga kehormatan diri (Qs.25:72);

39. Sederhanalah kamu dalam berjalan (sederhana dalam arti kata sesungguhnya maupun sederhana dalam berjalan/tidak terlalu cepat atau lambat) dan lunakkanlah suaramu (Qs.31:19);

40. Memanggil anak-anak angkatmu dengan memakai nama bapaknya (kandung), jika tidak mengetahui bapaknya maka panggillah sebagai saudaramu seagama dan maula-maulamu (Qs.33:5);

41. Bertawakal dan berserah diri hanya kepada Allah (Qs.39:38; Qs.39:54; Qs.42:10);

42. Menolak kejahatan dengan cara yang lebih baik (Qs.41:34);

43. Memutuskan masalah/urusan keduniaan dengan musyawarah antara mereka (Qs.42:38);

44. (Hubungan antara orang Islam dan orang kafir yang tidak memusuhi Islam tidak dilarang) Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Allah tidak melarang untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yang tidak memerangimu dan tiada mengusir kamu dari negerimu. Allah hanya melarang menjadikan orang yang memerangi dan mengusirmu dari negerimu sebagai kawan (Qs.60:1, 7-9);

45. Mengerjakan apa yang kamu katakan (seruan yang baik/amal saleh) (Qs.61:2-3);

46. Membaca (dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan sebagai kunci ilmu pengetahuan) (Qs.96:1);

——————————————————-

Yang dilarang Allah, yaitu sebagai berikut:

1. Menjadi golongan orang yang munafik, mengaku beriman tapi sesungguhnya tidak beriman (Qs.2:8-20; Qs.4:138, 142, 143, 145; Qs.8:20, 21; Qs.9:79-80; Qs.63:1-8); menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak penuh keyakinan), jika diberi kebaikan dia beriman, jika diuji dengan bencana kembali kafir (Qs.22:11; Qs.30:33; Qs.39:49); lemah imannya karena menghadapi cobaan (Qs.29:10);

2. Menyekutukan Allah (syirik) (Qs.2:22, 163; Qs.3:18, 64; Qs.4:36; Qs.6:151; Qs.10:106; Qs.11:2; Qs.13:36; Qs.17:23; Qs.22:12, 13; Qs.25:68; Qs.28:88; Qs.31:13; Qs.39:64-66; Qs.41:6; Qs.41:14; Qs.46:5); kafir/tidak beriman pada rukun iman (Qs.3:10-17, 131; Qs.4:38, 56; Qs.5:10; Qs.14:2; Qs.33:64, 65; Qs.40:6; Qs.57:19; Qs.67:6); Allah tidak mengampuni dosa syirik, Dia mengampuni dosa selain syirik (Qs.4:48, 116); beriman kemudian kafir-kemudian beriman-kemudian kafir lagi-kemudian bertambah kekafirannya (murtad) (Qs.4:137); menyeru menyembah tuhan yang lain disamping Allah (Qs.26:213); mempersekutukan Tuhan sekalipun yang menyuruhnya ibu-bapak (Qs.29:8; Qs.31:15);

3. Menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya (beribadah), dan berusaha merobohkannya (Qs.2:114); Menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, atau membuat menjadi bengkok (Qs.7:45, 86; Qs.8:47; Qs.14:3; Qs.16:94; Qs.47:32);

4. Mengikuti agama orang Yahudi dan Nasrani (Qs.2:120); mengikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, mempunya banyak harta dan anak namun memiliki sifat jelek tersebut di atas, yang menganggap ayat-ayat Allah sebagai dongengan (Qs.68:8-16);

5. Mengingkari Al Qur’an (Qs.2:121; Qs.7:36, 37, 103; Qs.25:36; Qs.41:41; Qs.46:7-8); tidak mendengarkan Al Qur’an dgn sungguh-sungguh dan justru membuat hiruk-pikuk terhadapnya, supaya dapat mengalahkan/membingungkan mereka (Qs.41:26);

6. Menyembunyikan ayat-ayat Allah atau keterangan-keterangan yang sudah jelas dan petunjuk dalam Al Kitab (Qs.2:159);

7. Memakan makanan yang diharamkan Allah, yaitu Allah hanya mengharamkan bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya sebelum mati, hewan yang disembelih untuk berhala. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa memakannya sedang ia tidak menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas’ maka tidak ada dosa baginya (Qs.2:173; Qs.5:3; Qs.6:121; Qs.16:115);

8. Mengubah isi wasiat setelah ia mendengarnya (Qs.2:181);

9. Memakan harta sebahagian orang lain dengan cara yang batil, kemudian membawa urusan harta itu/perselisihan kepada hakim agar kamu dapat memakan harta orang lain itu dengan curang (Qs.2:188; Qs.4:29);

10. Memfitnah (Qs.2:191); menuduh wanita baik-baik berbuat zina (Qs.24:23);

11. Meminum khamar/minuman yang memabukkan dan berjudi terdapat dosa yang lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya (Qs.2:219; Qs.5:90);

12. Menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman, dan jangan pula menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukmin sebelum mereka beriman (Qs.2:221);

13. Bersumpah atas nama Allah sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, sumpah tersebut harus dibatalkan dan baginya membayar kafaraat (Qs.2:224, Qs.24:22); dan Melanggar sumpah yang memang dimaksudkan/sengaja yang bukan penghalang berbuat kebajikan (Qs.5:89; Qs.16:91);

14. Riba (Qs.2:275-276, 278-279; Qs.3:130; Qs.30:39);

15. Mengambil orang-orang kafir menjadi wali/auliyaa (teman akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin (Qs.3:28; Qs.4:138-139, 144);

16. Berbuat bakhil atas harta yang dikaruniai Allah (Qs.3:180; Qs.100:8);

17. Melakukan perbuatan keji (berbuat zina termasuk terhadap sesama jenis) (Qs.4:15-16; Qs.6:151; Qs.7:33; Qs.16:90; Qs.24:2; Qs.25:68); jangan mendekati zina (Qs.17:33); Jangan mengikuti langkah-langkah setan, krn sesungguhnya itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan yang munkar (Qs.24:21);

18. Mengawini wanita-wanita yang: telah dikawini oleh ayahmu (Qs.4:22); Mengawini ibumu, anakmu yang perempuan, kakak perempuan, saudara bapakmu yang perempuan, saudara ibumu yang perempuan, anak perempuan dari saudara kandung kita, ibu yang menyusui kita/ibu pengganti, saudara perempuan sepersusuan, ibu istri (mertua), anak tiri dari istri yang telah kau campuri, istri anak kandung (menantu), menghimpunkan dalam perkawinan dua perempuan yang bersaudara (Qs.4:23);

19. Mengawini wanita yang bersuami (Qs.4:24);

20. Mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk berzina (Kawin Kontrak) (Qs.4:24)

21. Iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain (terkait pada bagian waris laki-laki yang lebih besar daripada wanita) (Qs.4:32);

22. Sombong, angkuh dan membangga-banggakan diri (Qs.8:47; Qs.17:37; Qs.31:18), kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir, menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya (kufur nikmat) (Qs.4:37; Qs.17:29; Qs.104:2-4; Qs.107:3); kisah Karun yang sombong akan hartanya (Qs.28:76-82);

23. Menafkahkan harta dengan maksud riya kepada manusia (Qs.4:38); riya (Qs.8:47; Qs.107:6);

24. Shalat dalam keadaan mabuk (Qs.4:43);

25. Hampiri masjid sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali hanya lewat, hingga kamu mandi (Qs.4:43);

26. Seorang mukmin membunuh seorang mukmin yang lain, kecuali karena tidak sengaja, maka bagi yg tidak sengaja hendaklah memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat untuk diserahkan kepada keluarga yang terbunuh, kecuali jika mereka keluarga yang terbunuh membebaskan diat. Barangsiapa tidak memperoleh hamba sahaya maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah (Qs.4:92);

27. Membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Jahannam (Qs.4:93; Qs.6:151; Qs.25:68); membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan (Qs.6:151; Qs.17:31);

28. Duduk beserta mereka orang-orang kafir yang sedang memperolok dan mengingkari ayat-ayat Allah, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain (Qs.4:140); mempergunakan perkataan yg tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan (Qs.31:6);

29. Allah tidak menyukai ucapan buruk (mencela orang, memaki, menerangkan keburukan org lain, menyinggung perasaan org, dsb) yang diucapkan dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (org teraniaya boleh mengemukakan keburukan org yg menganiaya di hadapan hakim/penguasa) (Qs.4:148); perbuatan dan perkataan yang tiada berguna (Qs.23:3); memperolok-olok kaum yang lain (Qs.49:11); membicarakan yang bathil bersama orang-orang yang membicarakannya (Qs.74:45); mengumpat dan mencela (Qs.104:1);

30. Mengundi nasib dengan anak panah (atau semacamnya) (berbuat fasik), berkorban untuk berhala (Qs.5:3, 90); Memperuntukan bagi Allah saji-sajian, dan pula saji-sajian untuk berhala (Qs.6136);

31. Mencuri (Qs.5:38);

32. Memerangi Allah dan Rasul-Nya, dan membuat kerusakan di muka bumi (Qs.5:33; Qs.13:25); menentang Allah dan Rasul-Nya (Qs.58:5);

33. Mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah melampaui batas (Qs.5:87; Qs.7:33; Qs.78:22); dalam hal makanan (Qs.6:119; Qs.16:116);

34. Membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata “telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya. Dan orang yang berkata “saya akan menurunkan apa seperti yang diturunkan Allah” (mengaku dirinya Rasul atau mengaku dirinya sebagai Tuhan) (Qs.6:93; Qs.39:32);

35. Memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah , karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (Qs.6:108);

36. Melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar (Qs.7:33);

37. Menjadikan agama sebagai main-main dan sendagurau, dan tertipu dengan kehidupan dunia (Qs.7:51);

38. Mengerjakan perbuatan faahisyah (homoseksual) (Qs.7:80, 81);

39. Memintakan ampun untuk orang-orang musyrik (Qs.9:113);

40. Lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat (terlena dengan kehidupan dunia) (Qs.14:3);

41. Berbuat kemungkaran dan permusuhan (Qs.16:90);

42. Mempercayai Tuhan mempunyai anak/mengambil seorang anak (Qs.18:2-5; Qs.19:88-92);

43. Memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya (Qs.24:27, 28);

44. Berpaling dengan menyombongkan diri bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami (Al Qur’an) (Qs.31:7; Qs.45:8-9); memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (ilmu yang benar) karena kesombongan semata/ingin mencapai kebesaran (Qs.40:56);

45. Menyakiti orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat (Qs.33:58);

46. Berputus asa dari rahmat Allah, karena Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs.39:53);

47. Beriman di waktu azab telah datang tidak berguna lagi (Qs.40:84-85);

48. Prasangka (buruk), mencari-cari kesalahan orang lain, bergunjing (Qs.49:12);

49. Mengada-adakan rahbaniyyah (tidak beristeri/bersuami dan mengurung diri dalam biara) (Qs.57:27);

50. Menzhihar isteri mereka, maka barang siapa yang menzhihar isterinya kemudian hendak menarik kembali ucapannya, wajib atasnya memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bercampur, bila tidak dapat budak, maka wajib baginya puasa dua bulan berturut-turut, bila tidak kuasa puasa, wajib baginya memberi makan 60 orang miskin (Qs.58:3-4);

60. Lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri (Qs.59:19);

61. Bermegah-megahan lagi melalaikan dari ketaatan (Qs.102:1-8);

62. Menghardik anak yatim (Qs.107:2);

Kesemua perintah maupun larangan-Nya tersebut di atas tersebar pada banyak surat. Perintah dan larangan-Nya disebutkan secara berulang, baik dalam surat yang sama maupun di surat yang berbeda. Maksudnya agar kita senantiasa mengingatnya kembali. Segala perintah dan larangan-Nya tersebut tidak terbatas pada surat dan ayat yang saya sebutkan saja. Kemungkinan pada surat dan ayat lain juga memerintahkan demikian, yang pada pokoknya menerangkan perintah dan larangan yang sama.

Dan tidak menutup kemungkinan pula, ada perintah dan larangan Allah di dalam Al Qur’an yang saya luput mencantumkannya. Oleh karenanya, koreksi atau tambahan dari rekan pembaca sangat diperkenankan demi kesempurnaan tulisan ini. Dan tidak henti-hentinya pula saya menyarankan agar kita semua senantiasa membaca dan memahami isi Al Qur’an, untuk kemudian mengaplikasikan dalam hidup kita keseharian.

Setelah kita mengetahui apa saja yang diperintahkan dan apa saja yang dilarang, maka sudah selayaknya pula kita mematuhi, mengingat, sekaligus mawas diri, agar kita menjadi orang yang bertaqwa, dan ditinggikan drajatnya oleh Yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang. Amin ya rabbal alamin…

Wassalam..

Dakwah Islam (Inti Ajaran)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kali ini saya akan mencoba mengangkat tema yang cukup ringkas, dan pula merujuk pada firman Allah yang secara tegas dan lugas diwahyukankan-Nya di dalam Al Qur’an. Sehingga tidak mungkin menjadikannya multitafsir, yaitu mengenai pokok/inti dari ajaran Islam itu sendiri.

Pokok ajaran yang diperintahkan Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya cukup sederhana. Apabila kita mencermati, Al Qur’an di dalamnya senantiasa memerintahkan kita untuk tidak menyekutukan Allah, karena memang itulah yang menjadi pokok ajarannya. Perintah tersebut diserukan secara berulang-ulang. Namun, saya kali ini hanya akan meng-highlight firman-Nya yang terkadung pada ayat-ayat terakhir dalam Qs. Yunus saja.

Di dalam Al Qur’an Qs. Yunus ayat 104 -109 menerangkan mengenai pokok dakwah Islam. Ayat-ayat tersebut merupakan ayat muhkamaat (ayat-ayat yang dapat dipahami dengan mudah, terang dan tegas). Apabila disimak dan diresapi, maka kita akan dapat menangkap pokok dari ajaran Islam itu sendiri. Perintah Tuhan yang utama, berikut ini bunyinya:

Qs. Yunus ayat 104 – 109

Katakanlah (Muhammad kepada seluruh umat manusia): “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman, dan hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah (Muhammad kepada seluruh umat manusia): “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

Yang demikian itulah yang menurut hemat saya adalah pokok dari perintah Tuhan, yaitu untuk tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Bila kita mengimani ke-Esa-an Allah, maka sudah barang tentu segala perintah-Nya akan senantiasa kita laksanakan sebagai suatu keyakinan yang terintegrasi sebagai kepatuhan seorang hamba. Maha Suci Allah, tiada Tuhan selain Allah.

Wassalamualaikum..

Mencintai Al Qur’an, Memaknai Kehidupan.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Tema yang akan saya sharing untuk kali ini ialah mengenai kecintaan dalam memahami dan mempelajari Al Qur’an. Rasa cinta dan hasrat untuk membaca Al Qur’an sebaiknya tidak muncul dengan cara dipaksakan (walaupun masih lebih baik dari tidak sama sekali), karena akan membuatnya menjadi tidak konsisten. Selalu ada moment awal dalam setiap kejadian, termasuk kejadian dimana tiba-tiba muncul hasrat di diri saya untuk ingin menghatamkan Al Qur’an dan mempelajari isi kandungannya secara antusias dan continue. Momentumnya yaitu ketika kakak ipar saya membeli paket buku sejarah Nabi Muhammad SAW beserta para khalifah-khalifah, yang dibuat berseri pada masing-masing tokoh tersebut. Bukunya cukup tebal, namun saya dibuatnya tertarik untuk ikut membaca sejarah Rasulullah Muhammad SAW, dengan alasan rasa ingin tahu terhadap asal-usul Rasulullah, pimpinan umat muslim dimana saya adalah termasuk di dalamnya yang menjadi umatnya. Saya merasa harus mencari alasan untuk menguatkan iman saya, pada siapa saya berpanutan, dan bagaimana kehidupan Rasulullah selama beliau masih hidup, seorang manusia pilihan Sang Pencipta yang begitu mulia. Bagaimana kita bisa bilang menauladani Rasulullah kalau kita sesunguhnya tidak tau apa yang hendak kita tauladani. Maka kemudian saya membaca buku yang tebal tersebut sampai tamat.

Mungkin Allah memang mengkondisikan demikian, membuat saya membaca buku tebal relijius, perihal sejarah Rasulullah, yang kemudian dapat memunculkan rasa MALU pada diri saya. Kenapa buku sejarah Rasul yang begitu tebal, yang dapat dikatakan sebagai buku penunjang keimanan, dibaca sampai tuntas?! Belum lagi berbagai novel tebal dan buku-buku pelajaran yang sebelumnya telah dibaca dan dipelajari. Sebaliknya, firman dari Sang Maha Pencipta yang dikitabkan dalam sebuah Al Qur’an, yang kemurniannya dijamin terjaga oleh-Nya, luput dari perhatian saya. Di usia 25 tahun ini, saya belum pernah sekalipun hatam. Walaupun sempat sekali hatam membaca tafsirnya saja, itu pun secara skimming dan tidak terlampau mendalam. Sebenernya alasan kenapa saya belum pernah hatam Al Qur’an itu sedikit konyol namun umum terjadi, yaitu lupa sampai mana bacaan terakhir yang saya baca. Maklum Al Qu’an di rumah cuma satu, tapi dibaca bergantian. Si A baca sampai ayat sekian, kemudian diberi tanda. Saat si B baca, pembatas halaman yang dijadikan tanda bacaan si A diubah untuk dijadikan tanda bacaan terakhir bagi si B. Hal tersebut kerap terjadi dan sering berulang.

Kemudian sejak rasa malu itu muncul, maka saya bulatkan tekad untuk harus menghatamkan Al Qur’an. Saya memutuskan membeli Al Qur’an untuk saya pribadi, hingga kejadian hilangnya tanda sampai dimana bacaan terakhir saya tak terulang kembali. Alhamdulillah, sejauh ini berjalan mulus dan konsisten.

Sekarang yang menjadikan motivasi saya kenapa mau membaca Al Qu’an dan mempelajari isi yang terkandung di dalamnya ialah: Pertama, motivasi awal tentunya rasa ingin tahu dan tanggung jawab sebagai konsekuensi atas keimanan saya. Sebagai muslim, saya merasa perlu tau hakikat menjadi seorang muslim, yaitu dengan mempelajari ajarannya dari sumbernya, yang tidak lain salah satunya adalah Al Qur’an (selain Al Hadits). Kedua, disadari atau tidak, saya merasakan lama-kelamaan membaca Al Qur’an itu membuat candu. Walaupun tidak faham artinya, tapi saya merasa nikmat dalam mendendangkan lantunan ayat suci Al Qur’an (meskipun tidak merdu). Ketiga, membaca dan memahami tafsir Al Qur’an membuat hati kian tenteram, dan dapat menjadi petunjuk dalam permasalahan hidup. Tidak jarang ketika saya ada sedikit masalah, kemudian saya membaca tafsir Al Qur’an, dan kebetulan apa yang saya baca cocok dengan problem saya saat itu dan dapat dijadikan petunjuk, sehingga membuat saya jadi lebih tenang dan sabar. Dan yang keempat, mempelajari Al Qur’an yang isinya sebagian besar cerita tentang kisah-kisah zaman nabi terdahulu, begitu menarik untuk disimak dan dicermati sebagai pelajaran hidup. Di dalamnya banyak nasihat, peringatan, petunjuk, dan tuntunan hidup. Senantiasa dapat dijadikan pegangan dan pedoman agar kita tidak terombang-ambing di dalam kehidupan di dunia.

Kemurnian Al Qur’an

Mengapa saya begitu yakin akan kebenaran Al Qur’an, tentunya kembali kepada masing-masing iman seseorang. Saya sepenuh hati tidak menyangsikan isi Al Qur’an karena hal tersebut dijamin oleh Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Di dalam firmannya pun Allah menantang siapa yang dapat membuat satu surat saja semisal Al Qur’an, jika kamu orang yang benar lagi meragukannya, niscaya mereka tidak akan dapat. Kemudian seringkali pula kepada mereka-mereka yang ingkar dan tidak mengimani ajaran Al Qur’an, Allah menantangnya, baginya yang salah akan mendapatkan azab yang pedih. Mari kita sama-sama menunggu akan azab tersebut, kepada siapa dia diberikan. Sungguh di akhirat kelak, ketika azab sudah berada di hadapan mereka, mereka baru mengetahui dan yakin, tapi sayang hal tersebut sudah terlambat. Sungguh saya tidak ingin menjadi orang yang rugi karena terlambat menyadari.

Berikut di bawah ini beberapa firman Allah di dalam Al Qur’an terkait kemurniannya yang akan saya kutip:

Qs. 3 ayat 3

Allah menurunkan Al Qur’an kepadamu dengan sebenarnya. Membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya (yang asli dan murni),

Qs. 3 ayat 4

Dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum Al Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia. Sesunguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi Mempunyai Balasan.

Qs. 15 ayat 9

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan Kami benar-benar memeliharanya.

Qs. 2 ayat 23

Jika kamu tetap dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada Muhammad, buatlah satu surat saja semisal Al Qur’an itu. Dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang yang benar.

Qs. 2 ayat 24

Maka jika kamu tidak dapat membuatnya, dan pasti kamu tidak akan dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari neraka.

Qs. 17 ayat 89

Sesunguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur’an tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan mengikarinya…

Qs. 21 ayat 10

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Apa kamu tidak memahaminya?

Allah pun dalam firmannya kembali menegaskan bahwa Al Qur’an benar-benar wahyu Allah. Sebagaimana yang tertuang dalam Qs. Al Haaqqah ayat 38 – 52, yang berbunyi sebagai berikut:

Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesunguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang Maha Besar.

Demikian sederet firman Allah perihal Al Qur’an yang saya kutip beberapa dari dalamnya. Semoga kita semua senantiasa berpedoman dan berpegang teguh pada Al Qur’an, dan tentunya mengamalkan atas segala perintah-Nya, sekaligus dapat mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Berbagai literatur ilmiah kita pelajari dari berbagai sumber bacaan, namun jangan sampai pedoman hidup luput kita fahami. Semoga senantiasa kita mencintai Al Qur’an, dan berhasrat untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan di dunia secara istiqomah. Amin ya Rabbal Alamin…

Wassalamualaikum…